About Me

Kamis, 28 Januari 2010

Antara Bunga dan Rumput

Rumput di taman tidak akan pernah menginginkan menjadi bunga yang berwarna-warni. Mungkin itu benar, sangkaku, karna aku sendiri tidak mengerti bahasa rumput seandainya ia bisa berbicara. Yang kupahami, ia merasa cukup untuk menjadi rumput yang mewarnai taman dengan hijaunya. Menebarkan wangi terapi khas rumput basah.
Demikian juga bunga. Meski dipandang sebagai karya ciptaan yang rupawan, ia tetap menyisakan celah agar rumput bisa bernapas. Menikmati hangatnya mentari yang membantu mereka untuk tetap hidup.
Bunga dan rumput, semuanya tumbuh ke atas. Seakan selalu rindu untuk berhadapan dengan penciptanya. Atau hanya sekedar selalu memuji Dia karna meletakkan mereka sebagai aksesoris semesta raya.
Dalam taman kecil itu, bersama-sama mereka mengkombinasi wewangian mereka yang khas. Mereka tidak saling mematahkan demi hidup mereka. Mungkin masing-masing dari mereka menyadari bahwa mereka memiliki tujuan dan kerinduan yang sama. Mungkin pula mereka menyadari bahwa keindahan ada karena kekhasan masing-masing dari mereka.
Yang jelas, mereka hidup dalam satu eksistensi; satu keberadaan, yaitu: keindahan dan keagungan karya Sang Penyelenggara Semesta, seniman agung jagad raya.

Selasa, 12 Januari 2010

Panggilan Hidup

Salah satu pertanyaan yg slalu menggangguku sejak 7 tahun yg lalu adalah tentang "Panggilan Hidup". Mungkin istilah ini asing ya buat orang2 awam secara umum. Mungkin aneh dan asing juga buatmu, hai jiwaku. Entah kapan aku akan mulai merasa jenuh merasakan apa panggilan hidupku..... Mungkin juga kali ini aku sudah merasa letih.... tapi akal budiku belum mengirim impuls yg menandakakan aku sudah letih..... Mungkin juga kau lebih tau apa yg terjadi sebenarnya dalam diriku... segala perasaan, pertentangan, pergulatan2...... pemikiran... setidaknya... kali ini aku cuma pengen ngomong.... meskipun sebenarnya kau lebih mengerti yg sebenarnya.....

Sebagai sebuah konsep, panggilan hidup adalah sesuatu yang menggetarkan, menggerakkan,menarik untuk dikejar, dan selalu muncul kembali itu mulai dilupakan.
Mencoba mencari Panggilan hidup lebih mirip seperti pencarian jati diri.... bukan hanya jati diri secara psikologis ato yg lain2..... tp jati diri tentang siapa aku sebenarnya..... dan pencarian itu semata-mata hanya ingin memuaskan kehidupan yg selalu menanyakan untuk tujuan apa aku dilahirkan di dunia ini.....

Stidaknya apa yg kupahami sebagai panggilan hidup manusia adalah( ky gini).....
  • tujuan hidup manusia yang sudah ditentukan oleh Tuhan sebelum aku tercipta dalam buah rahim ibuku. Tujuan itu tersembunyi dalam lubuk hati tiap manusia. Ia terselip di antara daya Ilahi alam semesta ini... (yg kumaksud daya ilahi adalah kekuatan ygn ada di alam tetapi diluar kuasa dan jangkauan manusia.... dengn ungkapan yg lebih sederhana ... itu tidak didefinisikan secara sempit sebagai roh atau Tuhan.)
  • tujuan hidup/ panggilan hidup perlu ditangkap, disadari, dan terus diusahakan oleh manusia untuk mengenali itu..... seperti layaknya aku ingin mengenali seorang gadis yg kucintai. Secara manusiawi, aku telah dianugrahi kemampuan berupa akal budi untuk mencari, menangkap, dan terus mengenali panggilan hidupku itu....
  • aku juga menyadari keterbastasanku sebagai manusia. Jika panggilan hidup itu diandaikan sebagai sebuah bola.... kemampuanku sebagai manusia hanya mampu memandang salah satu sisi dari bola itu... alias g bisa memandang bola itu dari semua sisi sekaligus.
setidaknya beginilah yg kurasakan....
3 point ini amat mempengaruhi apa yg kupikirkan, kurasakan, segala tindakan.... mungkin itu juga mempengaruhi dirimu ......
Jiwaku, jika engkau memang sudah tahu segalanya.... beritahu aku yg seperti sedang berputar2 dalam lingkaran setan.....
Jiwaku, jika engkau memang belum tahu.... marilah berdiri disampingku dan mulai melangkah bersama untuk mencari jawaban atas segala pertanyaan2 itu..... kita buat perjanjian di antara kita..... bahwa jawaban itu akan kita temukan.... seperti layaknya kita mencari harta karun paling berharga bagi dirikita....


Kentungan, 4 Januari 2010
Jam 11.40-ketiduran karna lelah

Kamis, 07 Januari 2010

Pengungkapan

Aku pikir, sang waktu tidak akan pernah berhenti mengakumulasi usia hidupku di dunia. Buktinya, ia terus saja bermain-main bola matahari. Ketika satu putaran siang selesai, sang waktu segera menariknya dari senja dan segera melemparkannya ke timur. Sang fajar dengan kegesitannya melambungkan matahari tinggi-tinggi sebelum Bethara Kala melahapnya dalam kegelapan bumi. Dengan begitu, sang waktu berhasil menambahkan satu hari dalam tahun hariku di dunia. Entah sampai kapan mereka akan bosan bermain-main seperti itu. Barangkali suatu saat, sang waktu mengganti arah lemparannya ke utara. Boleh juga, pikirku. Aku harap, ketika itu terjadi, usiaku akan dihitung ulang dari awal.
Hehe… Dihitung dari awal? Keren juga seandainya bisa seperti itu.
Aku pikir, penghitungan awal bisa dimulai kapan saja tanpa harus ribet-ribet seperti itu. Toh, penghitungan itu juga hasil ulah manusia. Manusia memang secara sadar atau tidak sadar selalu membuat ukuran-ukuran matematis tentang segala sesuatunya. Mungkin itu untuk mengukur sejauh mana dirinya telah bekembang. Mungkin pula untuk mengukur setenar apa karya-karyanya dapat dikenal oleh dunia.
Ngomong-ngomong soal karya tangan manusia, aku jadi ingat obrolan kita dulu. Kau mengatakan bahwa manusia itu selalu bangga akan apa yang ia ciptakan. Apalagi ciptaan itu adalah hasil karyanya sendiri. Ya… secara spontan aku menyetujui itu.
Aku pun akan bangga bila telah mengkreasi sesuatu, entah itu suatu acara atau benda. Sebisa mungkin aku harus mengabadikannya. Aku percaya bahwa tiap hasil karya selalu merupakan representasi dari penciptanya. Sebuah ungkapan batiniah manusia dalam bentuk realitas fisik. Aku sendiri telah membuat beberapa mp3 dari lagu-laguku. Yah… hanya sekedar dokumentasi karena ingatanku tak mampu mengabadikan perasaan-perasaanku.
Kawan, mungkin kau lupa sesuatu. Segala yang kita ciptakan ini tergantung dari berapa besarnya kemampuan kita. Aku contohnya. Tiap kali diminta untuk mengungkapkan apa yang kurasakan, aku selalu merasa kesulitan. Menulis indah atau bertutur secara menarik pun aku tak mampu. Rangkaian tata bahasaku kerap loncat kesana-kemari dengan PD-nya. Maka, aku mengungkapkan perasaanku lewat lagu karna aku memiliki talenta di situ.
Mengungkapkan lewat lagu memberikan keuntungan bagiku. Aku tidak perlu memikirkan tata bahasa yang aduhai selalu membingungkan diriku. Aku mengungkapkan perasaanku dengan ungkapan-ungkapan yang mewakili perasaanku.
Kalo kurasa-rasakan lagi, lagu pun belum cukup mewakili segala yang kurasakan. Kadang ada taste dari lagu itu yang kurang mengena terhadap perasaanku yang sesungguhnya. Namun, kalau diukur dari tingkat kepuasan, aku lebih puas mengungkapkan perasaanku lewat lagu.
.... mmmm…. Sori kawan, sepertinya omonganku ini tak tentu arahnya. Bukannya aku bermaksud demikian… aku hanya ingin berbagi rasa denganmu lewat laguku ini…. (Tuh, kan terbukti, kalo aku susah mengungkapkan perasaanku melalui bahasa tulisan….) kira-kira begini liriknya.

Judule Pelita Perjalanan
Panggilan hidup ini, kerap sulit aku mengerti
Beribu tanya menjejali hati
Hingga tak kuasa tuk kutanggung sendiri
Namun cinta-Mu beri sebuah pelita di jemari
Bahwa hidup hanya untuk mengerti
Semua karsa-Mu di jagad ini
Kau memanggilku tuk menjadi tangan kanan-Mu
Dan menebarkan cinta bagi sesama
Kau pun tunjukkan bunga api-Mu di hidupku
Yang kan tunjukkan akhir perjalanan hidupku ini.

Intinya, aku sedang merasa jenuh dengan semua yang kutemui dalam kehidupan ini. Aku terlalu letih untuk merenungkan apa tujuan hidupku, panggilan hidupku, dan kehendak Dia yang telah menciptakan kita.
Di sisi lain, aku telah terlalu banyak mengakumulasi penyesalan dalam hidupku. Ingin rasanya aku me-restart kehidupanku. Memulai lagi segalanya dari awal dan menjalani kehidupan tanpa harus melalukan lagi kekeliruan-kekeliruan yang pernah kulakukan. Sepertinya aku akan merasa lebih baik bila restarting itu bisa terlaksana.
But It’is bullshit. Non sense. Omong kosong….. Tuhan tidak pernah sekalipun menyelipkan tombol restart dalam tubuh manusia. Aku tidak tahu ini salah siapa. Yang jelas aku tidak berani menyalahkan Tuhan. Lah wong mendugai samudra raya aja ga bisa, apalagi menyalahkan Tuhan.
Ya wes…… Aku hanya bisa menerima….. menikmati betapa getirnya pengalaman-pengalaman hidupku, betapa pahitnya buah pare kehidupan ini…..
Aku benci tiap kali menggunakan kata ‘betapa’. Kesannya, tidak ada harapan, tidak ada semangat… lebay….
Tapi satu hal yang masih bertahan kuat dalam keyakinanku... bahwa Daya Ilahi selalu mengatasi segala yang ada.... melampaui segala batas... Seandainya dia berbentuk sosok tertentu... aku tak peduli apa bentuknya.... tp yg kupercaya Dia itu ada...
I think that is all enough…
Makasih dah menemaniku dalam malam bersama sebatang korek api ini…
Doakan semoga korek ini tidak lekas habis sebelum Sang Fajar memengankan kejar-kejarannya dengan Bethara Kala.

Rabu, 06 Januari 2010

Catatan Iseng slama retret....

11.00

Catatan Iseng:
Sudah 3 hari retret berjalan. 4 hari masih asyik nongkrong dengan masa depan entah di mana. Mungkin sedang bermain petak umpet dengan para peramal masa depan. Hehehe… Aku tidak tahu pengalaman-pengalaman apa yang dititipkan Tuhan pada mereka untuk kualami bersama hari-hari esok. Yang jelas, perlahan-lahan hari ini aku merasa lebih tenang. Tepatnya, hatiku yang merasa tenang. Kekalutan hati, kegelisahan-kegelisahan akan panggilan dan motivasi, semuanya sudah reda. Hari ini aku berani mengatakan ahwa aku telah memahami apa panggilan itu. Hari ini pula aku dapat benar-benar mensyukuri rahmat panggilan itu. Bukan panggilan menjadi imam atau panggilan menjadi awam. Aku menxyukuri karena aku hidup. Aku diberi kesempatan hidup karna Tuhan memanggilku untuk melakukan/ mengejawantahkan kehendak-Nya. Allah telah mengizinkan aku untuk lahir di dunia dan melibatkan aku dalam karya tanganNya.
Allah telah memilih prototype diriku dan menciptakan aku seagai kreasi tanganNya. Ia juga akan menggunakan aku sebgai alatNya untuk bekerja di jagad raya ini. Ia mencetak dan menghiasi diriku sedemikian rupa (talenta, akal budi, indera) agar aku menjadi alatNya yang pas untuk bekerja di planet Bumi yang adalah salah satu dari semkian banyak kreasi tanganNya pula. Betapa beruntungnya diriku dipilihNya. Aku hanya tahu, tanpa alasan lain, bahwa Ia mencintai aku, menghargai aku, merawat diriku; seperti layaknya seorang pemahat sejati yang mencintai, menghargai, dan merawat karyanya.
12.00

Maneges Karso Dalem

21.40
Dalam SESI hening tadi, ak merasa seperti mendapatkan sebuah pelita….
Ya… Pelita… Pelita yang memberikan sebuah cahaya harapan akan kegalauan hatiku, kecemasan-kecemasan dalam perasaanku, dan kekalutan-kekalutan dalam pikiran akal budiku. Aku disadarkan bahwa segala yang kualami dan kulakkukan bukanlah berdasar pada kehendakku. Itu semua adalah demi kehendak Dia yang mengutus aku dan memilihku untuk ada di dunia. Panggilan hidup, tujuan hidup, serta segala motivasi yang ada dibaliknya semestinya bertolak dari Karsa Dalem Gusti. Bukan karsaku. Bukan juga demi mencukupi apa yang kubutuhkan, melainkan apa yang Tuhan butuhkan. Nglampahi karsa Dalem Gusti adalah yang utama dan terutama.
Yesus sendiri yang mengajari para muridnya dan pengikutnya untuk selalu manages karso Dalem Gusti. “Makananku ialah melakukan kehendak Bapa-Ku”. Begitulahyang diajarkan Yesus. Perjuangan Yesus mempertahankan hidupnya adalah bukan demi keselamatan dirinya saja. Yang terutama adalah mengejawantahkan apa yang menjadi kehendak Bapa.
Terima kasih Tuhan, karena pada kesempatan ini aku diingatkan lagi akan motivasi dasar aku hidup di dunia ini. Aku diingatkan lagi akan visi utama dan mendasar dalam kehidupan ini; Panggilan hidup manusia Kristen yang paling dasar. Itu semua terangkum dalam melaksanakan kehendak Bapa.Maka, segala daya upaya dan pilihan-pilihan hidupku adalah demi melaksanakan kehendak Bapa. Bukan demi cita-cita, bukan demi impian-impian, bukan demi rumusan-rumusan visi hidup, bukan demi panggilan-panggilan yang kurumuskan, bukan demi apa-apa yang kupercayai semata-mata. Namun, ini semua adalah demi menjalankan dan mengejawantahkan apa yang menjadi karsa Dalem Gusti. Itu saja.
Persoalan hidup mendasar yang perlu kuselesaikan mulai saat ini adalah manages karso Dalem Gusti. Yang lainnya di-skip dulu.
Maria mau merawat bayi dalam kandungannya yang asal muasalnya di luar akal sehat manusia hanya demi melakukan kehendak Tuhan. Musa yang mau memimpin Israel, bangsa yang pernah menolaknya, adalah demi melakukan kehendak Allah. Yusuf yang mau mengambil Maria sebagai istrinya adalah demi melakukan kehendak Allah.
Maneges Karso Dalem Gusti adalah panggilan ciptaan Allah dalam perjuangannya mempertahankan hidup.

06.30 (6 Januari 2010)

Selasa, 05 Januari 2010

Pembenaran

5 jan 2010

14.02

Tadi aku membaca Kisah Para Rasul 7: 17-37
Aku sengaja membaca lebih dari perikop yan gmestinya kubaca. Bukan karna sengaja sih sebenarnya. Memang akunya saja yang bacanya ngloyor… hehehehe…. ^_^
Ada beberapa hal yang membuat aku tertarik:

PERTAMA: pada ayat yang menceritakan bahwa umat Israel merasa senang telah membuat patung lembu tuangan sebagai sesembahan mereka. Dari sini aku disadarkan bahwa:
a.Manusia itu selalu mbangga akan apa yang ia ciptakan bila ciptaan itu adalah hasil karyanya sendiri. Termasuk diriku. Aku merasa bangga bila telah mengkreasi sesuatu, entah itu benda atau acara. Sebisa mungkin aku harus mengabadikannya karna aku percaya bahwa tiap hasil karya selalu merupakan representasi dari pembuatnya.
b.Meskipun Tuhan, bila ditelusuri ke akar2nya, adalah lahir dari budaya sekelompok orang tertentu, Tuhan bukanlah ciptaan manusia, reka-reka dari manusia. Dalam imanku dan aku meyakini itu, Tuhan justru adalah daya Ilahi yang menciptakan manusia dan selalu mengatasi manusia. Bukan hanya manusia tapi juga jagad raya ini. Entah apa maunya daya ini???!!! Ia diyakini sebagai Sang Maha Baik. Maka, tindakan-tindakan ciptaan yang tidak baik tidak/ bukanlah karya tangan Allah. Meski demikian, aku juga menyadari bahwa secara manusiawi batasan-batasan tentang sesuatu yang baik masih belum jelas.

KEDUA: setelah mencermati kisah panggilan Musa, aku mendapatkan pengertian2 tentang makna “dipanggi”. “Dipanggil” berarti tidak “menerima” keadaan/ situasi yang kita hadapi secara pasif. Orang yang dipanggil dituntuk untuk melakukan kegiatan aktif, yaitu menjawab panggilan. Pada orang yang merasa “dipanggil” selalu ada dorongan yang menggetarkan hati dan memunculkan kehendak2 untuk melakukan sesuatu entah itu perubahan, pembelaan, dll. Dalam kisah panggilan Musa, Musa terdorong untuk peduli pada nasib bangsanya (Israel) di tanah Mesir. Dorongan/ panggilan batinnya termanifestasi dalam tindakan untuk membebaskan orang Israel dari tanah Mesir.dengan istilah lain, Musa peduli pada keselamatan orang Israel. Maka, pilihan tindakan2 Musa selalu menghamba pada kehendak2 Musa yang merupakan manifestasi dari panggilan hati Musa.

KETIGA: ada peneguhan dari pihak Tuhan bila dorongan dari dalam hati itu merupakan kehendak Tuhan. Selalu Immanuel (artinya: Allah menyertai) bila Allah menghendaki segala sesuatunya terjadi melalui diri kita. Yang perlu dilatih oleh manusia adalah kepekaan batinnya untuk merasakan penguatan itu ada dalam hati atau tidak. Aku sendiri saat ini sedang tidak mengerti apakah imamat merupakan jalan yang tepat bagiku untuk menjalani panggilan Tuhan, mencari jati diriku.
Mungkin terlihat bodoh. Namun, faktanya aku sedang bertaruh dengan Tuhan. Aku bilang, “Tuhan, bila sampai akhir semester ini aku tetap tidak mengerti/ tidak tahu secara jelas apa motivasiku menjadi imam, itu berarti merupakan pertanda bahwa jalan imamat bukanlah jalan yang tepat untuk menanggapi panggilan Tuhan atau pencarian jatidiriku. Tuhan, jika memang Engkau menghendakMeni aku berada di jalan imamat, berikanlah aku petunjukmu agar aku mengetahui motivasiku. Jika Engkau menganggap aku keliru dalam cara2 ku untuk mencari/ menemukan motivasiku berikanlah aku pelita dan peta karena aku ini orang bebal dan bodooh. Di hadapan-Mu, otakku tidaklah lebih besar dari kutu daun dan perasaanku juga tidak sehalus segala yang yang paling kasar di dunia. Tuhan, Engkau mengetahui aku. Bahkan, sebelum aku lahir, Engkau sudah tahu aku akan eek dan pipis di mana dan kapan saja.”
Tuhan aku selalu membutuhkan-Mu sebagai pelita bagi hidupku dan tongkat yang menopang perjalanan hidupku. Maafkan aku, apabila bebal dan tumpulnya hatiku ini terlampau parah. Hanya satu yang kumau saat ini, Tuhan, yaitu: semakin mengenalimu sebagai Allahku dan rekan setia perjalanan hidup ini.

EMPAT: panggilan hidup selau ada dalam nuansa percaya dan tidak percaya. Maksudnya, panggilan hidup tiap manusia berbeda-beda. Tiap manusia memiliki kepercayaan masing-masing akan misi yang diyakininya sebagai panggilan hidupnya.
Aku sendiri masih mengalami krisis akan panggilan hidupku. Aku hanya meyakini visi yang pernah kudefinisikan dulu sebagai panggilan hidupku. Aku jg meyakini poin2 refleksi selama ini sebagai nilai2 yang patut kuperjuangkan. Hanya itulah yang kuperjuangkan dalam hiduku sebgai sesuatu yang mendasari hidupku. Terus-menerus dan tanpa henti, aku mencari pembenaran2 akan apa yang kupercayai dan apa yang kuyakini sebgai sesuatu yang benar. Bagiku, itulah salah satu bentuk perjuangan hidup, yakni mencari pembenaran2 akan apa yang kupercayai.

15.12

Bakung

05.45

Bunga bakung tidak memeilih tempat untuk ia hidup dan tumbuh, kawan. Sama seperti aku, manusia, hewan-hewan, tumbuh-tumbuhan, kita semua tidak dapat memiih tempat untuk dilahirkan, tempat untuk mulai bertunas, tanah di mana kita mulai menghunuskan akar tunggang kita. Kembali aku pandangi sang bakung yang sedang asyik bercumbu mesra dengan mentari pagi ini. Sekalipun pagi ini masih menggenggam sisa dingin semalam, sang bakung tetap teguh. Tidak lari dan kemudian bersembunyi di balik selimut tebal seperti aku saat ini. Memang sih… ini masih liburan. Namun, aku merasa bunga bakung sedang memberiku kuliah tentang kehidupan. Seperti sebuah mantra atau reyma… ia merapalkan kalimat “belajarlah menerima keadaan di mana aku tumbuh dan menerima situasi sekitarku” berulang kali. Menjejalkannya dalam benakku… membuaiku… dan berhasil memanipulasi kata-kataku dalam hati untuk mengikuti irama mantranya…

Sebagai manusia dewasa… (dewasa? Apakah aku sudah dewasa? Apa batasan seseorang dianggap dewasa?) aku memang mampu menolak keluargaku dengan segala daya yang ada dalam akal budiku. Namun, aku adalah bagian dari keluargaku merupakan sesuatu yang tak bisa kupungkiri. Sampai mati, atau seluruh anggota keluargaku mati, link-link yang tercipta antara aku dan keluargaku dan orang-orang lain tak akan pernah putus… Koneksinya selalu ada dan entah berapa kbps kecepatannya… Link itu sudah abadi semenjak aku diciptakan di dunia ini. Aku bertunas dari akar yang sama dengan keluargaku. Menyerap mineral dari tanah yang sama. Akar tungganggku nantinya juga menancap pada tanah yang sama dengan akar-akar tunggang tiap person yang jadi anggota keluargaku.

Sekalipun aku dan sanak familiku memiliki akar yang sama, aku tetap berbeda dengan pribadi-pribadi lain. Aku menyerap mineral dengan caraku sendiri, memperoleh asupan cahaya matahari dan air dengan cara dan upayaku yang khas. Aku mengalami proses dan progress fotosintesis dengan cara dan gayaku sendiri. Intinya, kelangsungan hidupku tergantung dari seluruh input, proses, dan output yang aku lakukan. Itu semua demi satu kebutuhan dasar yang utama yaitu bertahan hidup. Atau, dengan istilah lain kebutuhanitu adalah kebutuhan akan keselamatan drii. Aku makan dan minum demi keselamatan diri. Aku minta uang saku demi keselamatan diri; biar aku bisa jajan, bisa dolan-dolan bersama teman-teman. Aku berdoa kepada Tuhan demi keselamatan diri; dengan beragama aku mengharapkan segalanya biar aku selalu baik dan tidak masuk neraka; tidak masuk neraka berarti selamat karena aku tidak tersiksa. Aku mandi juga demi keselamatan diri. Sejauh pemahamanku, segala daya upaya, tindakan, dan polah tingkahku selalu mengarah pada dan merupakan manifestasi dari perjuangan mempertahankan hidup….

Kawan,…. Sejauh ini sih hanya itu yang ada dalam pemahamanku…. Apa yang sebenarnya aku juga tidak tahu…. Aku hanya sekedar memanfaatkan akal budiku… mencoba mengembangkan apa yang telah ditanamkan Sang Pencipta kepadaku… itu saja…. Seandainya aku salah atau sesat pikir, ya… aku minta maaf… dan aku mohon pemakluman darimu kawan…. Apa yang ada padaku hanya mampu memandang sebuah objek hanya dari salah satu sisinya saja…. Sekalipun aku selalu berpindah-pindah tempat….. Bila aku melihat sebuah bola, maka hanya satu sisinya saja yang nampak oleh ku. Aku tidak mampu memandang sebuah bola dari seluruh sisinya sekaligus… Bukankah begitu kawan?! Atau aku sesat pikir lagi?? Aku harap tidak… dan aku hanya bisa berharap kau pun berpendapat sama denganku…

Oke… lanjut dulu ya… ^_^

Ketika sudah merasa tercukupi segala kebutuhan itu, baru orang terdorong untuk berjuang mempertahankan hidup sesuatu yang ada di sekitarnya. Dorongan inilah yang popular dengan nama altruis. Dalam nuansa atruisme ini, orang yang disebut rela berkorban adalah orang yang mengesampingkan kepentingan pribadi dan mendahulukan keselamatan hidup orang lain. Orang yang disebut putus harapan adalah orang yang sudah kehilangan makna mempertahankan hidup. Orang yang disebut bijaksana adalah orang yang berjuang mempertahankan hidupnya sekaligus mempertahankan hidup orang lain. Dan orang yang disebut Pengikut Yesus adalah orang yang berjuang mempertahankan hidupnya sendiri tetapi demi kelangsungan hidup orang lain. Sori kalo aku menyebut itu dengan sebutan “Pengikut Yesus”. Maksudku adalah menunjuk orang beragama. Karena kebetulan aku Katolik, maka aku menyebutnya sebagai “Pengikut Yesus”.

Apa makna mempertahankan hidup?

Secara sederhana, mempertahankan hidup kumaknai sebagai sebuah perjuangan menjaga nyawaku demi mencari jati diriku yang sebenarnya; Jati diri yang telah ditentukan Tuhan atas hidupku sebelum aku menjadi buah dalam rahim ibuku; Sebuah perjuangan untuk mencari apa sebenarnya karsa Sang Ilahi, sehingga aku Ia ciptakan dalam tanah tempat bijiku ditanam, bertunas dari akar tempat aku mulai mengenal dunia, dan bertumbuh dari mineral-mineral yang berasal dari lingkungan aku hidup.

Mempertahankan hidup orang lain itu seperti aku merawat tanaman. Aku ikut mempertahankan nyawa tumbuhan itu dengan member air, member pupuk, menggemburkan tanahnya, member asupan cahaya matahari yang cukup. Dah… hanya sebatas itu saja. Selebihnya, usaha mempertahankan hidup ditentukan dari proses dan progress internal yang ada dalam tumbuhan itu. Aku tidak dapat mengatur lalulintas makanan dalam Xylem dan floem. Aku tidak dapat menentukan prosentase kadar mineral yang mesti diserap oleh tiap untai bulu akarnya.

Berbicara tentang orang lain, aku jadi ingat akan e-mail yg dikirimkan oleh seorang rekanku di milis Soe_Hok_Gie. Ia bercerita tentang anak yang terlahir dengan mengidap virus HIV. Diceritakan bahwa anak itu energik dan selalu bersemagant dalam melakukan segala sesuatunya. Belum lepas bangku SD,, anak itu menderita tumor ganas di hidung. Tumor itu telah dengan sukses menutupi separuh wajahnya karena keluarganya tidak memiliki biaya untuk operasi. Belum selesai urusannya dengan sakitnya itu, berita (yang menurutku) menyedihkan tentang kesehatan anak itu datang lagi. Sang bocah kecil itu divonis dokter telah menderita Leukimia….. Tragis bukan?!

Mengetahui kisah itu dan menyadari pergulatan yang sedang kualami aku jadi bertanya: apa tujuan hidup anak itu? Apa yang dikehendaki Tuhan dengan mengizinkan anak itu menikmati duia ini? Jika Tuhan tidak adam siapakah yang bertanggung jawab atas nyawa ini? Mengapa sang pemberi nyawa nekat saja memberikan nyawa pada setangkai bakung yang hidup di gurun Gobi ini? Apa panggilan hidupnya di dunia ini? Apakah panggilan hidupnya di dunia ini hanya sekedar memberikan teladan bagi orang-orang yang disebut putus harapan dalam menjalani kehidupan di atas tanah tempat mereka hidup? Apa yang dapat kulakukan baginya sebagai bentuk kepedulianku akan nyawanya? Di manakah angin di bawah kepak sayapnya? Apakah panggilan hidupku nantinya juga demi dia? Apa panggilan hidupku? Apa motivasi panggilan hidupku?

Memang, di hadapan Tuhan aku tidaklah lebih baik dan lebih tinggi martabatnya daripada anak itu. Juga aku tidak lebih rendah dan lebih hina dan nestapa daripada bocah itu. Menyadari adanya batas-batas ruang dan waktu serta jarak, aku hanya mampu memasrahkan bocah itu pada cinta Ilahi yang selalu lebih besar dari segala macam hal-hal dan tindakan-tindakan baik dari manusia. Mungkin, tragis juga karena keikutsertaanku dalam memperjuangkan hidup dan keselamatannya hanya dengan menyerahkannya begitu saja pada karsa dan cinta Allah melalui tangan-tangan orang lain yang saat ini tidak mengalami keterbatasan-keterbatasan yang saat ini, kini, dan di sini sedang kualami. Kiranya, aku boleh belajar tentang kerendahan hati dari refleksi ini, kawan. Aku berharap, semoga orang lain juga mengalami pembelajaran yang sama denganku……

ya……. Semoga…..

11.05