About Me

Tampilkan postingan dengan label Poems. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Poems. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 April 2014

Find You

When you look at the tree,
see it green,
then you ask: why does it give me something to breath?

When you at the shore
watching the deep blue sea,
then you ask: why it can vanish my thirsty
with a little tricky distillation?

When you at the door of your self
enjoying the questions of who am I,
then you end up with asking:
why such spiral stairs can identify me?

Then you realize that above those
you are facing the perfect unsolveable connections;
it is like you stand in deep darkness.

With a guide of you awareness,
you crawl looking for a proper clue.
Neither religions nor believes can save you out.
You pray to God, at least to pick you out of it.
[imagine that you've been freed]
But, someday you'll repeat the same questions.
Then you meet this part again.

Budha calls it reincarnation.
You name it whatever you want.
Then, the reality says that you're circling arround;
Your consciousness is going no-where.


You are still the same children
gazing and speculating about the stars amid the night sky.

Finally, you open the eye of your consciousness.

The only thing to help you see in the darkness is a little light.
You already have the candle.
But you don't have the light yet.
That's what you need to find.

This light lays beneath you.
This light is not the stranger
That's why I call it "you".


Kurcaci Ikal
Yogyakarta, 2 April 2014

Senin, 07 Oktober 2013

Revelasi

Hampir separuh cangkir kopiku kuminum
dan masih belum beranjak pula aku dari kursiku untuk mencari sesendok teh gula.

Ibuku berkali-kali menawarkan diri untuk membelikan aku secarik tropikana slim.
Sejumlah itu pula aku menolak perhatiannya.
Bukan karena aku tidak peduli pada cintanya.
Namun aku mulai menikmati secangkir kopiku.

Lidahku mencecap sensasi eksotis pada tiap tegukan.
Gigi dan telingaku seperti terbiasa menggelinjang mengunyah renyah tumbukan kasarnya.

Aku tersaput dari duniaku,
melepaskan tiap ikatan senyawa,
teraduk larut dalam ilham akan esensi biji kopi dalam cangkirku.


Kurcaci Ikal
Yogyakarta, 7 Oktober 2013



Nb:
Kadang kala tiap perjalanan spiritual tidak selalu seperti seorang petualang harta karun atau seorang musafir padang gurun. Ilham serta pengetahuan yang diperoleh kadang seperti kenikmatan saat menyeruput secangkir kopi.

Semoga Menginspirasi ^_^

Sabtu, 05 Oktober 2013

Pemurnian

Balon udaraku telah siap mengudara
namun tambangnya masih tertambat erat.
dan aku enggan untuk kembali memijakkan tanah,
mencari sebilah pisau atau gunting
karna aku sudah terlalu berhasrat menggapai senyawa-senyawa di ujung cakrawala.
sementara manusia-manusia yang kucintai enggan pula melepaskan simpulnya, karna mereka masih butuh untuk kuajari berdiri.

Jauh di atas kepalaku, sinar matahari terjebak hukum alam dan menerima takdirnya untuk berevolusi menjadi senja.
Sedangkan aku, kini, bergeming di antara langit dan bumi

antara mimpi dan kenyataan

antara cinta dan kehilangan

seperti buih dalam ember cucian.



(andai diberi satu permintaan, akan kutukarkan bahasa manusiaku dengan bahasa alam semesta)

Senin, 10 Januari 2011

Sebelum Engkau Lelap

Satu simpul senyum kusunggingkan pada mu
jika kau mengizinkannya...
agar esok kau tak lupa tuk tersenyum
dan kehilangan manismu

Satu dekapan kulingkarkan di ragamu
jika kau mengizinkannya...
agar esok kau tak lupa akan hatimu
yang hingga malam ini
masih tetap berdetak di dadaku

Satu kecupan kuletakkan di dahimu
jika kau mengizinkannya...
agar esok kau tak lupa akan sayangku
jika kau terbangun dan menjadi lupa ingatan

Selamat malam hatiku...
Semoga kau berjumpa dengan bintang-bintang
yang mengetahui segala hal
yang belum sempat kuceritakan hari ini
karena musim hujan belum berlalu.


00.09
10 Januari 2011

Kamis, 25 November 2010

Kangen

Berbaring resah dalam bayangan.
Jiwaku menggigil kedinginan.
Bukan karena menanggung karma
namun, cuaca tak berima

Telinga rindu berdenging
Mendamba suara sentuh daunnya
Bukan suara-suara nyaring,
Namun bisik getar nadinya.

Nadiku telah mati beku
atau sekarat jika nyawa tersisa.
Darahku masih menghamba jantung.
Namun lupa jalan ke sana.

Sebilah rasa menikam dada.
Merenteng mata pikuk dan prahara.
Dan aku terjelembab ke dalam liang.
Jatuh... rapuh... luruh.
Merana dijajah peluh.

Aku melihatnya di sana.
Penuh senyum bercengkerama
dengan bintang teman malam-malamnya.

Benarkah ia bermadu mesra dengan bintang?
Kapan ia teringat lg bila malam itu punya bintang?

Atau...
Aku hanya bermimpi.
Membawa sebuah bintang baginya.
Agar ia bertemu masa belianya
agar ia bercumbu dengan kisah-kisah klasiknya
agar...
agar...
agar... aku dapat menjadi bintang
yang kini ia lupakan.


Aku masih merangsek dalam kubur
Menunggu orang menimbun tanahnya.
Terbalut dadaku dengan lumpur.
Mengisi separuh ruang yang ternganga.

Kembalikan jika kau tak mau!
Sembuhkan jika kau penjaga waktu!

Kamu...

Dirimu...

Apimu...

SELAMATKANLAH AKU....

Senin, 22 November 2010

Pencari Tuhan

Sudah lama aku mencari Tuhan.
Kata guru agamaku, Dia ada di dalam hatiku.
Di dalam hati? (batinku)

Tp di mana hati itu?
Kata orang-orang romantis sich,
hati itu ada di balik dada
karna tiap orang bilang kata "hati", tangannya selalu menyentuh dada.

Aku pengen mencariNya
Biar aku bisa ketemu Tuhan
dan menanyakan bagaimana aku harus belajar mencintai.
Tp aku juga belum ingin mati.
kalau aku mencari hatiku, berarti aku harus
mengoyak dadaku dan mengobok-obok sampai ke dasarnya.

Tunggu..
Tunggu sebentar.
Kalau Tuhan ada di dalam hati, kenapa Dia sekecil itu?
Ah, tidak. Pasti Dia ada di suatu tempat yang lebih besar yang bisa menampung kebesaranNya.

Di mana Tuhan itu?

Seorang beragama mengatakan,
"Dia ada kalau kamu memeluk agama.
Kamu dapat menemukanNya dalam kitab suci."

Menurutku logis juga:
kitab suci lebih kelihatan dan real.
Tapi....
kenapa Dia hanya rupa aksara yang tersusun Indah?
Sebuah buku, kalau terbakar, habislah sudah raganya.
Jika memang Dia di sana, di mana AgungNya Tuhan?

Aku sudah mencari di seluruh kolong langit.
Aku mencari dan tak kutemukan.

Aku mencari di buku-buku best seller.
Mencari di antara bintang-bintang malam
Mencari di butiran dogma
Mencari di serpihan-serpihan budaya lama
Bahkan di selangkangan yang katanya adalah barang suci
Aku hanya menemukan sidik-sidik jariNya.

Akhirnya,
Dalam selimut lelah, aku meringkuk kedinginan.
Menyesali diri yang terlalu angkuh ingin bertemu dengan Nya.

Namun ada satu tempat yang belum kucari.

(bernyanyi)
Ubi Caritas et Amor, Deus Ibi Est.

Jumat, 03 September 2010

Kehidupan

Dalam cengkerama dengan dunia
aku bertanya:
Siapakah Engkau sebenarnya?
Kapan Engkau tercipta?
Engkau apa?
Mengapa Engkau bulat?
Dari mana Engkau berasal?
Hanya "mungkin" yang merasuki tiap jawaban


Dalam cengkerama dengan sesama
aku bertanya:
Siapa dirimu sebenarnya?
Kapan dirimu tercipta?
Dirimu apa?
Mengapa dirimu seperti itu bentuknya?
Dari mana dirimu berasal?
Hanya "mungkin" yang menggarami tiap jawaban

Dalam cengkerama dengan sahaya
aku bertanya:
Siapa Sahaya sebenarnya?
Kapan Sahaya tercipta?
Sahaya apa?
Mengapa Sahaya seperti itu bentuknya?
Dari mana Sahaya berasal?
Hanya "mungkin" Sang Tiran tunggal dunia jawaban?

Hanya "mungkin" yang menjadi jawaban yang paling mungkin dari segala kemungkinan

Bagaimana aku menggulingkan tirani ini?

Mungkinkah kenyataan hanya album kompilasi dunia mungkin
dengan jutaan track list yang mungkin muat dalam list-nya?

Kamis, 29 April 2010

Penantian

Sehelai lembayung senja sudah terkulai
Merebahkan kepala di paha cakrawala
Menyaksikan bintang-bintang di antara sulur-sulur malam
Yang sedang menggelar pasar malamnya.

Bayanganku semakin panjang.
Kegundahanku kian mengejang.
Kehendakku terus mengerang.
Kapan kepastian datang?

Sepi seolah sendiri.
Sunyi seakan tak berbunyi.
Kosong seolah kompong.

Kuharap kau tahu.
Aku lelah mencari.

Berhentilah kau begitu!
Aku tetap tak mengerti!

Waktu kita segera tuntas.
Pagi pun hendak meretas.

Keputusanku tegas:
Aku ingin lepas.

Bila kau tak merelakan,
Berikan sebuah alasan untuk bertahan.
Sebelum hanya kenangan
Tersisa di ujung penantian.

Kentungan, 11 Februari 2010
Ketika aku bergulat dalam pertaruhanku.

Sabtu, 20 Februari 2010

Hujan



Hujan


Ribuan malaikat terbang bebas ke bumi
.
Membawa kabar suka cita pada dunia.
Raganya mungil...
jernih seakan tak kasat mata

Aura damainya terbias bebas
Nafasnya yang khas disampaikan bayu beberapa saat lalu.

Kini gersang mulai cemas.
Mungkin sebentar lagi akan tersedu.
Meratapi diri bahwa harus segera berkemas
Menyusul panas yang lebih dulu berlalu.

Satu per satu malaikat mendarat.
Isinya terlepas membuat tempias.
Tersesap lesap dalam pori-pori dunia.
Memperkenalkan nama "basah" pada pijakannya.

Kemudian, Sang tanah terkesiap.
"Siapakah gerangan yang tahu kerinduanku?" katanya.
"Bukankah aku tak pernah berbicara pada siapapun?
Mungkin ia tahu dari ragaku yang sudah pecah tak karuan.
Ah, biarlah....
Kukirimkan saja rasa terima kasihku."

Dan gelembung-gelembung pun mulai bermunculan di atas genangan air.

Seekor katak berteriak:
"Oiii... Bro... Kita banyak-banyakan memecahkan gelembung, yuk!
Bukankah kita rindu pada saat-saat seperti ini?!"
Mereka pun mulai kegirangan.
Melampiaskan segenap hasrat yang lama terpendam.
Sekali sentuhan mereka, air genangan memercik basah pada tubuh-tubuh hijau.

Air???
Ya.... Air....
Manusia menyebut kabar suka cita itu sebagai air.
Anak-anak manusia suka bermain air.

Ya....
Entah sudah berapa tahun aku melupakan sebutan itu.

Air....
Air....
Air....

Gumamanku terus berlanjut...
hingga kekacauan rupa tanah mulai mengingat kembali istilah "becek"


Bejen, 20 Februari 2010.
Ndezzz.


...sejumlah kata ini kudedikasikan kepada tanah-tanah yang kerap rindu akan setetes hujan...

Kamis, 21 Mei 2009

Geliat Perasaan

Rasa ini menyapaku lagi.
Kali ini Ia meracau…
Mengacau-balau ketenangan dalam hati…
Polahnya kelewat parah…
Sampai-sampai mimpi-mimpi lama tergugah…
Menggeliat dari dasar endapan-endapan hati…
Yang berhasil ku nina bobokan kala aku mulai mengerti arti birahi.
Segerombolan mimpi berhasil membujuk sang Pemimpi
Menggumamkan imajinasi akan dia yang kucintai.
Ah… Harus dengan apa lagi aku membujuknya kembali terlelap
dan mulai mengarang cerita lagi tentang penyangkalan akan adanya mimpi-mimpi itu?

Dulu aku berpikir ia tak akan bangun lagi…
Sehingga aku memutuskan untuk berjalan tenang
Hingga hari ini.

Kupikir perasaan itu tak akan berhasil menemukanku di jalan ini.
Dulu aku yakin dia tak tertarik dengan jalan yang penuh liku dan terjal ini.
Dan kurasa jalan ini telah melupakannya
Selalu berusaha meredamnya tuk selalu diam.

Itu dulu…
Kini aku sadar…
Perasaan berbeda dengan seekor semut yang terlalu mudah dimusnahkan.
Perasaan itu abadi…
Ia terlalu cerdas untuk menyusup dalam hati manusia.

Kini sang pemimpi mendapatkan mainan lamanya…
Dan aku hanya diberi kegelisahan yang indah.

Aku ingin mencintaimu…
Aku ingin menyayangimu…

Mencintai hanya karena cinta
Menyayangi hanya karena sayang

Kentungan, Mei 2009
Untuk tulang rusukku yang belum kutemukan (atau mungkin tak prnah menjadi milikku).