About Me

Sabtu, 20 Februari 2010

Hujan



Hujan


Ribuan malaikat terbang bebas ke bumi
.
Membawa kabar suka cita pada dunia.
Raganya mungil...
jernih seakan tak kasat mata

Aura damainya terbias bebas
Nafasnya yang khas disampaikan bayu beberapa saat lalu.

Kini gersang mulai cemas.
Mungkin sebentar lagi akan tersedu.
Meratapi diri bahwa harus segera berkemas
Menyusul panas yang lebih dulu berlalu.

Satu per satu malaikat mendarat.
Isinya terlepas membuat tempias.
Tersesap lesap dalam pori-pori dunia.
Memperkenalkan nama "basah" pada pijakannya.

Kemudian, Sang tanah terkesiap.
"Siapakah gerangan yang tahu kerinduanku?" katanya.
"Bukankah aku tak pernah berbicara pada siapapun?
Mungkin ia tahu dari ragaku yang sudah pecah tak karuan.
Ah, biarlah....
Kukirimkan saja rasa terima kasihku."

Dan gelembung-gelembung pun mulai bermunculan di atas genangan air.

Seekor katak berteriak:
"Oiii... Bro... Kita banyak-banyakan memecahkan gelembung, yuk!
Bukankah kita rindu pada saat-saat seperti ini?!"
Mereka pun mulai kegirangan.
Melampiaskan segenap hasrat yang lama terpendam.
Sekali sentuhan mereka, air genangan memercik basah pada tubuh-tubuh hijau.

Air???
Ya.... Air....
Manusia menyebut kabar suka cita itu sebagai air.
Anak-anak manusia suka bermain air.

Ya....
Entah sudah berapa tahun aku melupakan sebutan itu.

Air....
Air....
Air....

Gumamanku terus berlanjut...
hingga kekacauan rupa tanah mulai mengingat kembali istilah "becek"


Bejen, 20 Februari 2010.
Ndezzz.


...sejumlah kata ini kudedikasikan kepada tanah-tanah yang kerap rindu akan setetes hujan...

Rabu, 10 Februari 2010

Solilokui tentang Lampu Taman



Wahai manusia, di atas pagar bata ini aku telah terbaring lama. Melampaui ratusan ribu detik, aku duduk di kasur hitamku ini. Menikmati waktu tanpa melewatkan satu pun saat-saat matahari lelah bertengger di puncak langit.
Di samping kiriku, ada pohon flamboyan. Daun-daunnya menudungiku dari matahari... Betapa baiknya dia... Dengan kelebihannya, dia tidak menghancurkanku yang mudah pecah ini. Batangnya memang cukup besar, seolah mengancam akan menjatuhi diriku. Namun, dengan percaya diri ia berkata... "Tenang kawan, sekalipun aku tumbuh di pinggir tebing ini, akarku dan tanah ini masih saling berpegangan erat. Aku juga yakin tanah ini tidak akan menghianatiku sehingga melepaskan pegangan tangannya." Aku pun percaya pada makluhk hidup maha besar ini.

Wahai manusia, aku adalah benda mati. aku tak pandai menghitung bahkan angka pun tak kenal. Entah telah berapa waktu lamanya aku bertengger di sini. Menemani dan menerangi sekitarku. Memikat serangga-serangga kecil untuk bermain menghibur-ku ketika kalian terlelap di malam hari.

Singgah di alam luar memang menyenangkan. Aku menjadi saksi bisu akan bunga sedap malam yang mekar. Menatap purnama hingga pagi menjelang. Sampai-sampai aku lupa berapa meter debu yang terus mempertebal tubuhku.

Aku kerap berkhyalal suatu saat aku bisa ngomong dengan kalian. Seandainya bisa, aku memohon dengan segala kerendahan hatiku agar kalian mau membersihkan debuku. Mungkin bagi kalian aku adalah barang sepele. Mungkin bagi kalian, aku sudah bisa menyala kalian sudah tidak kelabakan lagi. Namun, bukankah kalian akan lebih senang bila menyaksikan taman ini lebih terang.

Sekurang-kurangnya aku bisa selalu bersyukur. setidaknya tiap tetes hujan mampu mengurangi debu-debu yang singgah di atas tubuhku.

Tak kuhitung aku berdiam di atas pagar ini. Atau berapa senja lagi yang telah kusaksikan. Yang jelas, dingin dan panas dunia membuat aku makin renta dan kenyang usia.

Tapi, aku tak peduli itu!!!

Yang terus kuperjuangkan adalah bagaimana aku terus memberi terang bagi sekitarku.

Mungkin.... Usiaku tinggal besok, lusa, atau masih lama lagi. Akan tetapi bial aku mati nanti, aku akan mati dengan bahagia karna tanggungjawabku telah terpenuhi. Yaitu: memberi terang bagi sekitar agar keindahan masing-masing sekitarku menjadi kentara ketika matahari sudah lelah meraja.

Seniman, Karya Seni, dan Penikmat Seni

Dalam imanku, aku terlahir ke dunia karena diutus oleh Allah. Allah memiliki sebuah rencana bagi dunia dan Ia memilihku untuk menunaikan salah satu rencana-Nya. Ini bukan hanya berlaku untukku saja, melainkan berlaku bagi setiap orang dan setiap ciptaan yang ada di dunia.Ia menciptakan aku sebagai karya tangan-Nya. Karna Allah suka akan kebaikan, barangkali tiap ciptaan diciptakan untuk menambah indahnya dunia.

Seorang seniman tidak menciptakan karyanya untuk menambah keburukan dan ketidakharmonisan dunia. Seorang seniman menyampaikan isi hatinya, pesannya, ungkapan dirinya melalui karya-karyanya. Tiap karya yang diciptakan adalah magnet dengan daya tariknya masing-masing yang menarik hati orang lain untuk mengatakan sesuatu tentang keindahan; menafsirkan sesuatu tentang maksud dari lukisan itu; meraba-raba isi hati Sang Seniman melalui goresan-goresannya. Akhirnya, Sang Penikmat Seni itu sampai pada tahap mencoba mengenali karakter senimannya melalui karya-karyanya itu. Kemudian, sang penikmat seni melontarkan pujian, komentar, dan tanggapan kepada Sang Seniman.
Sayangnya, akal budi Sang Penikmat Seni terlalu terbatas untuk mengerti nilai, makna, serta maksud di balik karya-karya seni Sang Seniman. Ada kemungkinan tafsiran Sang Penikmat Seni hampir sama dengan maksud Sang Seniman sebenarnya. Ada pula penafsiran Sang Penikmat Seni yang jauh melenceng dari maksud Sang Seniman. Oleh karena itu, sebuah karya seni menjadi ‘makhluk’ tersendiri yang bisa ‘berbicara’ tergantung dari perspektif Sang Penikmat Seni. Karya seni menjadi dunia ke 3 yang sungguh menambah misteri semesta. Kalau mau tau maksud sebenarnya, langsung tanyakan saja kepada Sang Seniman pembuat karya itu. Ironisnya lagi, Sang Penikmat Seni kurang memiliki waktu atau kesulitan untuk berhubungan langsung dengan Sang Seniman. Bahkan ketika berjumpa dengan Sang Seniman pun, penafsiran Sang Penikmat Seni atas kata-kata yang diungkapkan Sang Seniman berbeda-beda pula. Dengan begitu, kata-kata itu merupakan misteri baru, ‘makhluk’ baru yang bisa ‘ngomong’ sesuai dengan penafsiran Sang Penikmat Seni yang mendengarkan.

Benar-benar kompleks kehidupan ini!

Dunia di mana kita tinggal, tidak hanya berisi Sang Seniman dan Sang Penikmat Seni. Ada pula ciptaan yang enggan menjadi Penikmat Seni. Ia benar-benar acuh tak acuh terhadap karya-karya Sang Seniman. Jika sudah demikian, berapa banyak misteri yang ada di dunia ini?
Kawan, seandainya Sang Seniman itu adalah Allah (bagi orang yang percaya bahwa Allah itu ada), dan Sang Penikmat Seni atau Sang Bukan Penikmat Seni adalah kita, What’s then?
Kawan, sebenarnya ini bukan kategori solilokui sih.. wong yg ngomong aku....
yah... anggap aja ini sebuah testimoni tentang siapa saja yang kubicarakan di sini...

Seandainya, aku masih boleh berceloteh, aku akan berkomentar demikian:
Allah adalah Sang Seniman Agung atas jagad raya ini. Aku dan segala yang ada di jaga raya ini adalah karya seni-Nya. Kepada karya-Nya, manusia, Ia menambahkan akal budi dan kehendak bebas sebagai hiasan yang khas atas salah satu karya tangan-Nya ini. Aksesori inilah yang memampukan manusia untuk menjadi sebuah karya seni sekaligus Penikmat seni sekaligus Seniman-seniman Kecil Duniawi yang menjadi perpanjangan tangan-Nya untuk kelangsungan kreasi-kreasi-Nya di dunia. Maka, bolehlah manusia itu disebut Creator and creature in time. Sedangkan, Allah, bagi orang-orang yang mempercayai paham ke-Allah-an, pantas mendapat julukan The Greatest Creator of All Creatures.

Maka, ukuran kita/ aku melakukan kehendak Allah atau tidak melakukan kehendak Allah diukur dari seberapa besar keterlibatanku untuk menjadi perpanjangan tangan-Nya di dunia yang selalu mencipta hanya demi keindahan dunia. Mungkin benar dan memang benar bahwa tiap manusia memiliki batasan-batasan karena manusia hanya sebatas creature. Dan karena keterlibatan itu, aku, manusia, kerap tidak mengerti mana yang merupakan kehendak Allah atau bukan. Tiap ajaran agama memiliki patokan-patokan dan rumusannya sendiri tentang batasan-batasan mana yang disebut kehendak Allah dan mana yang bukan. Namun mulai sekarang yang kupercayai sebagai kehendak Allah adalah demikian: sejauh hasil dari karyaku di dunia semakin menambah keindahan dan harmoni dalam dunia dan bukan kekacauan yang kuhasilkan, berarti itulah kehendak Allah.

Seandainya, aku diserang oleh orang-orang yang tidak percaya akan Allah, aku masih tetap memiliki satu keuntungan, yaitu: aku tetap terlibat menambah keindahan dan harmoni dunia. Seandainya, Allah memang benar-benar ada, aku mendapat 2 keuntungan: yang pertama adalah aku telah menambah keindahan dan harmoni dunia, dan aku bangga karna menjadi ciptaan yang boleh ikut bersama-sama mencipta dengan Sang Seniman pembuat diriku (Creature and creator in time)

Kamis, 28 Januari 2010

Antara Bunga dan Rumput

Rumput di taman tidak akan pernah menginginkan menjadi bunga yang berwarna-warni. Mungkin itu benar, sangkaku, karna aku sendiri tidak mengerti bahasa rumput seandainya ia bisa berbicara. Yang kupahami, ia merasa cukup untuk menjadi rumput yang mewarnai taman dengan hijaunya. Menebarkan wangi terapi khas rumput basah.
Demikian juga bunga. Meski dipandang sebagai karya ciptaan yang rupawan, ia tetap menyisakan celah agar rumput bisa bernapas. Menikmati hangatnya mentari yang membantu mereka untuk tetap hidup.
Bunga dan rumput, semuanya tumbuh ke atas. Seakan selalu rindu untuk berhadapan dengan penciptanya. Atau hanya sekedar selalu memuji Dia karna meletakkan mereka sebagai aksesoris semesta raya.
Dalam taman kecil itu, bersama-sama mereka mengkombinasi wewangian mereka yang khas. Mereka tidak saling mematahkan demi hidup mereka. Mungkin masing-masing dari mereka menyadari bahwa mereka memiliki tujuan dan kerinduan yang sama. Mungkin pula mereka menyadari bahwa keindahan ada karena kekhasan masing-masing dari mereka.
Yang jelas, mereka hidup dalam satu eksistensi; satu keberadaan, yaitu: keindahan dan keagungan karya Sang Penyelenggara Semesta, seniman agung jagad raya.

Selasa, 12 Januari 2010

Panggilan Hidup

Salah satu pertanyaan yg slalu menggangguku sejak 7 tahun yg lalu adalah tentang "Panggilan Hidup". Mungkin istilah ini asing ya buat orang2 awam secara umum. Mungkin aneh dan asing juga buatmu, hai jiwaku. Entah kapan aku akan mulai merasa jenuh merasakan apa panggilan hidupku..... Mungkin juga kali ini aku sudah merasa letih.... tapi akal budiku belum mengirim impuls yg menandakakan aku sudah letih..... Mungkin juga kau lebih tau apa yg terjadi sebenarnya dalam diriku... segala perasaan, pertentangan, pergulatan2...... pemikiran... setidaknya... kali ini aku cuma pengen ngomong.... meskipun sebenarnya kau lebih mengerti yg sebenarnya.....

Sebagai sebuah konsep, panggilan hidup adalah sesuatu yang menggetarkan, menggerakkan,menarik untuk dikejar, dan selalu muncul kembali itu mulai dilupakan.
Mencoba mencari Panggilan hidup lebih mirip seperti pencarian jati diri.... bukan hanya jati diri secara psikologis ato yg lain2..... tp jati diri tentang siapa aku sebenarnya..... dan pencarian itu semata-mata hanya ingin memuaskan kehidupan yg selalu menanyakan untuk tujuan apa aku dilahirkan di dunia ini.....

Stidaknya apa yg kupahami sebagai panggilan hidup manusia adalah( ky gini).....
  • tujuan hidup manusia yang sudah ditentukan oleh Tuhan sebelum aku tercipta dalam buah rahim ibuku. Tujuan itu tersembunyi dalam lubuk hati tiap manusia. Ia terselip di antara daya Ilahi alam semesta ini... (yg kumaksud daya ilahi adalah kekuatan ygn ada di alam tetapi diluar kuasa dan jangkauan manusia.... dengn ungkapan yg lebih sederhana ... itu tidak didefinisikan secara sempit sebagai roh atau Tuhan.)
  • tujuan hidup/ panggilan hidup perlu ditangkap, disadari, dan terus diusahakan oleh manusia untuk mengenali itu..... seperti layaknya aku ingin mengenali seorang gadis yg kucintai. Secara manusiawi, aku telah dianugrahi kemampuan berupa akal budi untuk mencari, menangkap, dan terus mengenali panggilan hidupku itu....
  • aku juga menyadari keterbastasanku sebagai manusia. Jika panggilan hidup itu diandaikan sebagai sebuah bola.... kemampuanku sebagai manusia hanya mampu memandang salah satu sisi dari bola itu... alias g bisa memandang bola itu dari semua sisi sekaligus.
setidaknya beginilah yg kurasakan....
3 point ini amat mempengaruhi apa yg kupikirkan, kurasakan, segala tindakan.... mungkin itu juga mempengaruhi dirimu ......
Jiwaku, jika engkau memang sudah tahu segalanya.... beritahu aku yg seperti sedang berputar2 dalam lingkaran setan.....
Jiwaku, jika engkau memang belum tahu.... marilah berdiri disampingku dan mulai melangkah bersama untuk mencari jawaban atas segala pertanyaan2 itu..... kita buat perjanjian di antara kita..... bahwa jawaban itu akan kita temukan.... seperti layaknya kita mencari harta karun paling berharga bagi dirikita....


Kentungan, 4 Januari 2010
Jam 11.40-ketiduran karna lelah

Kamis, 07 Januari 2010

Pengungkapan

Aku pikir, sang waktu tidak akan pernah berhenti mengakumulasi usia hidupku di dunia. Buktinya, ia terus saja bermain-main bola matahari. Ketika satu putaran siang selesai, sang waktu segera menariknya dari senja dan segera melemparkannya ke timur. Sang fajar dengan kegesitannya melambungkan matahari tinggi-tinggi sebelum Bethara Kala melahapnya dalam kegelapan bumi. Dengan begitu, sang waktu berhasil menambahkan satu hari dalam tahun hariku di dunia. Entah sampai kapan mereka akan bosan bermain-main seperti itu. Barangkali suatu saat, sang waktu mengganti arah lemparannya ke utara. Boleh juga, pikirku. Aku harap, ketika itu terjadi, usiaku akan dihitung ulang dari awal.
Hehe… Dihitung dari awal? Keren juga seandainya bisa seperti itu.
Aku pikir, penghitungan awal bisa dimulai kapan saja tanpa harus ribet-ribet seperti itu. Toh, penghitungan itu juga hasil ulah manusia. Manusia memang secara sadar atau tidak sadar selalu membuat ukuran-ukuran matematis tentang segala sesuatunya. Mungkin itu untuk mengukur sejauh mana dirinya telah bekembang. Mungkin pula untuk mengukur setenar apa karya-karyanya dapat dikenal oleh dunia.
Ngomong-ngomong soal karya tangan manusia, aku jadi ingat obrolan kita dulu. Kau mengatakan bahwa manusia itu selalu bangga akan apa yang ia ciptakan. Apalagi ciptaan itu adalah hasil karyanya sendiri. Ya… secara spontan aku menyetujui itu.
Aku pun akan bangga bila telah mengkreasi sesuatu, entah itu suatu acara atau benda. Sebisa mungkin aku harus mengabadikannya. Aku percaya bahwa tiap hasil karya selalu merupakan representasi dari penciptanya. Sebuah ungkapan batiniah manusia dalam bentuk realitas fisik. Aku sendiri telah membuat beberapa mp3 dari lagu-laguku. Yah… hanya sekedar dokumentasi karena ingatanku tak mampu mengabadikan perasaan-perasaanku.
Kawan, mungkin kau lupa sesuatu. Segala yang kita ciptakan ini tergantung dari berapa besarnya kemampuan kita. Aku contohnya. Tiap kali diminta untuk mengungkapkan apa yang kurasakan, aku selalu merasa kesulitan. Menulis indah atau bertutur secara menarik pun aku tak mampu. Rangkaian tata bahasaku kerap loncat kesana-kemari dengan PD-nya. Maka, aku mengungkapkan perasaanku lewat lagu karna aku memiliki talenta di situ.
Mengungkapkan lewat lagu memberikan keuntungan bagiku. Aku tidak perlu memikirkan tata bahasa yang aduhai selalu membingungkan diriku. Aku mengungkapkan perasaanku dengan ungkapan-ungkapan yang mewakili perasaanku.
Kalo kurasa-rasakan lagi, lagu pun belum cukup mewakili segala yang kurasakan. Kadang ada taste dari lagu itu yang kurang mengena terhadap perasaanku yang sesungguhnya. Namun, kalau diukur dari tingkat kepuasan, aku lebih puas mengungkapkan perasaanku lewat lagu.
.... mmmm…. Sori kawan, sepertinya omonganku ini tak tentu arahnya. Bukannya aku bermaksud demikian… aku hanya ingin berbagi rasa denganmu lewat laguku ini…. (Tuh, kan terbukti, kalo aku susah mengungkapkan perasaanku melalui bahasa tulisan….) kira-kira begini liriknya.

Judule Pelita Perjalanan
Panggilan hidup ini, kerap sulit aku mengerti
Beribu tanya menjejali hati
Hingga tak kuasa tuk kutanggung sendiri
Namun cinta-Mu beri sebuah pelita di jemari
Bahwa hidup hanya untuk mengerti
Semua karsa-Mu di jagad ini
Kau memanggilku tuk menjadi tangan kanan-Mu
Dan menebarkan cinta bagi sesama
Kau pun tunjukkan bunga api-Mu di hidupku
Yang kan tunjukkan akhir perjalanan hidupku ini.

Intinya, aku sedang merasa jenuh dengan semua yang kutemui dalam kehidupan ini. Aku terlalu letih untuk merenungkan apa tujuan hidupku, panggilan hidupku, dan kehendak Dia yang telah menciptakan kita.
Di sisi lain, aku telah terlalu banyak mengakumulasi penyesalan dalam hidupku. Ingin rasanya aku me-restart kehidupanku. Memulai lagi segalanya dari awal dan menjalani kehidupan tanpa harus melalukan lagi kekeliruan-kekeliruan yang pernah kulakukan. Sepertinya aku akan merasa lebih baik bila restarting itu bisa terlaksana.
But It’is bullshit. Non sense. Omong kosong….. Tuhan tidak pernah sekalipun menyelipkan tombol restart dalam tubuh manusia. Aku tidak tahu ini salah siapa. Yang jelas aku tidak berani menyalahkan Tuhan. Lah wong mendugai samudra raya aja ga bisa, apalagi menyalahkan Tuhan.
Ya wes…… Aku hanya bisa menerima….. menikmati betapa getirnya pengalaman-pengalaman hidupku, betapa pahitnya buah pare kehidupan ini…..
Aku benci tiap kali menggunakan kata ‘betapa’. Kesannya, tidak ada harapan, tidak ada semangat… lebay….
Tapi satu hal yang masih bertahan kuat dalam keyakinanku... bahwa Daya Ilahi selalu mengatasi segala yang ada.... melampaui segala batas... Seandainya dia berbentuk sosok tertentu... aku tak peduli apa bentuknya.... tp yg kupercaya Dia itu ada...
I think that is all enough…
Makasih dah menemaniku dalam malam bersama sebatang korek api ini…
Doakan semoga korek ini tidak lekas habis sebelum Sang Fajar memengankan kejar-kejarannya dengan Bethara Kala.

Rabu, 06 Januari 2010

Catatan Iseng slama retret....

11.00

Catatan Iseng:
Sudah 3 hari retret berjalan. 4 hari masih asyik nongkrong dengan masa depan entah di mana. Mungkin sedang bermain petak umpet dengan para peramal masa depan. Hehehe… Aku tidak tahu pengalaman-pengalaman apa yang dititipkan Tuhan pada mereka untuk kualami bersama hari-hari esok. Yang jelas, perlahan-lahan hari ini aku merasa lebih tenang. Tepatnya, hatiku yang merasa tenang. Kekalutan hati, kegelisahan-kegelisahan akan panggilan dan motivasi, semuanya sudah reda. Hari ini aku berani mengatakan ahwa aku telah memahami apa panggilan itu. Hari ini pula aku dapat benar-benar mensyukuri rahmat panggilan itu. Bukan panggilan menjadi imam atau panggilan menjadi awam. Aku menxyukuri karena aku hidup. Aku diberi kesempatan hidup karna Tuhan memanggilku untuk melakukan/ mengejawantahkan kehendak-Nya. Allah telah mengizinkan aku untuk lahir di dunia dan melibatkan aku dalam karya tanganNya.
Allah telah memilih prototype diriku dan menciptakan aku seagai kreasi tanganNya. Ia juga akan menggunakan aku sebgai alatNya untuk bekerja di jagad raya ini. Ia mencetak dan menghiasi diriku sedemikian rupa (talenta, akal budi, indera) agar aku menjadi alatNya yang pas untuk bekerja di planet Bumi yang adalah salah satu dari semkian banyak kreasi tanganNya pula. Betapa beruntungnya diriku dipilihNya. Aku hanya tahu, tanpa alasan lain, bahwa Ia mencintai aku, menghargai aku, merawat diriku; seperti layaknya seorang pemahat sejati yang mencintai, menghargai, dan merawat karyanya.
12.00

Maneges Karso Dalem

21.40
Dalam SESI hening tadi, ak merasa seperti mendapatkan sebuah pelita….
Ya… Pelita… Pelita yang memberikan sebuah cahaya harapan akan kegalauan hatiku, kecemasan-kecemasan dalam perasaanku, dan kekalutan-kekalutan dalam pikiran akal budiku. Aku disadarkan bahwa segala yang kualami dan kulakkukan bukanlah berdasar pada kehendakku. Itu semua adalah demi kehendak Dia yang mengutus aku dan memilihku untuk ada di dunia. Panggilan hidup, tujuan hidup, serta segala motivasi yang ada dibaliknya semestinya bertolak dari Karsa Dalem Gusti. Bukan karsaku. Bukan juga demi mencukupi apa yang kubutuhkan, melainkan apa yang Tuhan butuhkan. Nglampahi karsa Dalem Gusti adalah yang utama dan terutama.
Yesus sendiri yang mengajari para muridnya dan pengikutnya untuk selalu manages karso Dalem Gusti. “Makananku ialah melakukan kehendak Bapa-Ku”. Begitulahyang diajarkan Yesus. Perjuangan Yesus mempertahankan hidupnya adalah bukan demi keselamatan dirinya saja. Yang terutama adalah mengejawantahkan apa yang menjadi kehendak Bapa.
Terima kasih Tuhan, karena pada kesempatan ini aku diingatkan lagi akan motivasi dasar aku hidup di dunia ini. Aku diingatkan lagi akan visi utama dan mendasar dalam kehidupan ini; Panggilan hidup manusia Kristen yang paling dasar. Itu semua terangkum dalam melaksanakan kehendak Bapa.Maka, segala daya upaya dan pilihan-pilihan hidupku adalah demi melaksanakan kehendak Bapa. Bukan demi cita-cita, bukan demi impian-impian, bukan demi rumusan-rumusan visi hidup, bukan demi panggilan-panggilan yang kurumuskan, bukan demi apa-apa yang kupercayai semata-mata. Namun, ini semua adalah demi menjalankan dan mengejawantahkan apa yang menjadi karsa Dalem Gusti. Itu saja.
Persoalan hidup mendasar yang perlu kuselesaikan mulai saat ini adalah manages karso Dalem Gusti. Yang lainnya di-skip dulu.
Maria mau merawat bayi dalam kandungannya yang asal muasalnya di luar akal sehat manusia hanya demi melakukan kehendak Tuhan. Musa yang mau memimpin Israel, bangsa yang pernah menolaknya, adalah demi melakukan kehendak Allah. Yusuf yang mau mengambil Maria sebagai istrinya adalah demi melakukan kehendak Allah.
Maneges Karso Dalem Gusti adalah panggilan ciptaan Allah dalam perjuangannya mempertahankan hidup.

06.30 (6 Januari 2010)

Selasa, 05 Januari 2010

Pembenaran

5 jan 2010

14.02

Tadi aku membaca Kisah Para Rasul 7: 17-37
Aku sengaja membaca lebih dari perikop yan gmestinya kubaca. Bukan karna sengaja sih sebenarnya. Memang akunya saja yang bacanya ngloyor… hehehehe…. ^_^
Ada beberapa hal yang membuat aku tertarik:

PERTAMA: pada ayat yang menceritakan bahwa umat Israel merasa senang telah membuat patung lembu tuangan sebagai sesembahan mereka. Dari sini aku disadarkan bahwa:
a.Manusia itu selalu mbangga akan apa yang ia ciptakan bila ciptaan itu adalah hasil karyanya sendiri. Termasuk diriku. Aku merasa bangga bila telah mengkreasi sesuatu, entah itu benda atau acara. Sebisa mungkin aku harus mengabadikannya karna aku percaya bahwa tiap hasil karya selalu merupakan representasi dari pembuatnya.
b.Meskipun Tuhan, bila ditelusuri ke akar2nya, adalah lahir dari budaya sekelompok orang tertentu, Tuhan bukanlah ciptaan manusia, reka-reka dari manusia. Dalam imanku dan aku meyakini itu, Tuhan justru adalah daya Ilahi yang menciptakan manusia dan selalu mengatasi manusia. Bukan hanya manusia tapi juga jagad raya ini. Entah apa maunya daya ini???!!! Ia diyakini sebagai Sang Maha Baik. Maka, tindakan-tindakan ciptaan yang tidak baik tidak/ bukanlah karya tangan Allah. Meski demikian, aku juga menyadari bahwa secara manusiawi batasan-batasan tentang sesuatu yang baik masih belum jelas.

KEDUA: setelah mencermati kisah panggilan Musa, aku mendapatkan pengertian2 tentang makna “dipanggi”. “Dipanggil” berarti tidak “menerima” keadaan/ situasi yang kita hadapi secara pasif. Orang yang dipanggil dituntuk untuk melakukan kegiatan aktif, yaitu menjawab panggilan. Pada orang yang merasa “dipanggil” selalu ada dorongan yang menggetarkan hati dan memunculkan kehendak2 untuk melakukan sesuatu entah itu perubahan, pembelaan, dll. Dalam kisah panggilan Musa, Musa terdorong untuk peduli pada nasib bangsanya (Israel) di tanah Mesir. Dorongan/ panggilan batinnya termanifestasi dalam tindakan untuk membebaskan orang Israel dari tanah Mesir.dengan istilah lain, Musa peduli pada keselamatan orang Israel. Maka, pilihan tindakan2 Musa selalu menghamba pada kehendak2 Musa yang merupakan manifestasi dari panggilan hati Musa.

KETIGA: ada peneguhan dari pihak Tuhan bila dorongan dari dalam hati itu merupakan kehendak Tuhan. Selalu Immanuel (artinya: Allah menyertai) bila Allah menghendaki segala sesuatunya terjadi melalui diri kita. Yang perlu dilatih oleh manusia adalah kepekaan batinnya untuk merasakan penguatan itu ada dalam hati atau tidak. Aku sendiri saat ini sedang tidak mengerti apakah imamat merupakan jalan yang tepat bagiku untuk menjalani panggilan Tuhan, mencari jati diriku.
Mungkin terlihat bodoh. Namun, faktanya aku sedang bertaruh dengan Tuhan. Aku bilang, “Tuhan, bila sampai akhir semester ini aku tetap tidak mengerti/ tidak tahu secara jelas apa motivasiku menjadi imam, itu berarti merupakan pertanda bahwa jalan imamat bukanlah jalan yang tepat untuk menanggapi panggilan Tuhan atau pencarian jatidiriku. Tuhan, jika memang Engkau menghendakMeni aku berada di jalan imamat, berikanlah aku petunjukmu agar aku mengetahui motivasiku. Jika Engkau menganggap aku keliru dalam cara2 ku untuk mencari/ menemukan motivasiku berikanlah aku pelita dan peta karena aku ini orang bebal dan bodooh. Di hadapan-Mu, otakku tidaklah lebih besar dari kutu daun dan perasaanku juga tidak sehalus segala yang yang paling kasar di dunia. Tuhan, Engkau mengetahui aku. Bahkan, sebelum aku lahir, Engkau sudah tahu aku akan eek dan pipis di mana dan kapan saja.”
Tuhan aku selalu membutuhkan-Mu sebagai pelita bagi hidupku dan tongkat yang menopang perjalanan hidupku. Maafkan aku, apabila bebal dan tumpulnya hatiku ini terlampau parah. Hanya satu yang kumau saat ini, Tuhan, yaitu: semakin mengenalimu sebagai Allahku dan rekan setia perjalanan hidup ini.

EMPAT: panggilan hidup selau ada dalam nuansa percaya dan tidak percaya. Maksudnya, panggilan hidup tiap manusia berbeda-beda. Tiap manusia memiliki kepercayaan masing-masing akan misi yang diyakininya sebagai panggilan hidupnya.
Aku sendiri masih mengalami krisis akan panggilan hidupku. Aku hanya meyakini visi yang pernah kudefinisikan dulu sebagai panggilan hidupku. Aku jg meyakini poin2 refleksi selama ini sebagai nilai2 yang patut kuperjuangkan. Hanya itulah yang kuperjuangkan dalam hiduku sebgai sesuatu yang mendasari hidupku. Terus-menerus dan tanpa henti, aku mencari pembenaran2 akan apa yang kupercayai dan apa yang kuyakini sebgai sesuatu yang benar. Bagiku, itulah salah satu bentuk perjuangan hidup, yakni mencari pembenaran2 akan apa yang kupercayai.

15.12

Bakung

05.45

Bunga bakung tidak memeilih tempat untuk ia hidup dan tumbuh, kawan. Sama seperti aku, manusia, hewan-hewan, tumbuh-tumbuhan, kita semua tidak dapat memiih tempat untuk dilahirkan, tempat untuk mulai bertunas, tanah di mana kita mulai menghunuskan akar tunggang kita. Kembali aku pandangi sang bakung yang sedang asyik bercumbu mesra dengan mentari pagi ini. Sekalipun pagi ini masih menggenggam sisa dingin semalam, sang bakung tetap teguh. Tidak lari dan kemudian bersembunyi di balik selimut tebal seperti aku saat ini. Memang sih… ini masih liburan. Namun, aku merasa bunga bakung sedang memberiku kuliah tentang kehidupan. Seperti sebuah mantra atau reyma… ia merapalkan kalimat “belajarlah menerima keadaan di mana aku tumbuh dan menerima situasi sekitarku” berulang kali. Menjejalkannya dalam benakku… membuaiku… dan berhasil memanipulasi kata-kataku dalam hati untuk mengikuti irama mantranya…

Sebagai manusia dewasa… (dewasa? Apakah aku sudah dewasa? Apa batasan seseorang dianggap dewasa?) aku memang mampu menolak keluargaku dengan segala daya yang ada dalam akal budiku. Namun, aku adalah bagian dari keluargaku merupakan sesuatu yang tak bisa kupungkiri. Sampai mati, atau seluruh anggota keluargaku mati, link-link yang tercipta antara aku dan keluargaku dan orang-orang lain tak akan pernah putus… Koneksinya selalu ada dan entah berapa kbps kecepatannya… Link itu sudah abadi semenjak aku diciptakan di dunia ini. Aku bertunas dari akar yang sama dengan keluargaku. Menyerap mineral dari tanah yang sama. Akar tungganggku nantinya juga menancap pada tanah yang sama dengan akar-akar tunggang tiap person yang jadi anggota keluargaku.

Sekalipun aku dan sanak familiku memiliki akar yang sama, aku tetap berbeda dengan pribadi-pribadi lain. Aku menyerap mineral dengan caraku sendiri, memperoleh asupan cahaya matahari dan air dengan cara dan upayaku yang khas. Aku mengalami proses dan progress fotosintesis dengan cara dan gayaku sendiri. Intinya, kelangsungan hidupku tergantung dari seluruh input, proses, dan output yang aku lakukan. Itu semua demi satu kebutuhan dasar yang utama yaitu bertahan hidup. Atau, dengan istilah lain kebutuhanitu adalah kebutuhan akan keselamatan drii. Aku makan dan minum demi keselamatan diri. Aku minta uang saku demi keselamatan diri; biar aku bisa jajan, bisa dolan-dolan bersama teman-teman. Aku berdoa kepada Tuhan demi keselamatan diri; dengan beragama aku mengharapkan segalanya biar aku selalu baik dan tidak masuk neraka; tidak masuk neraka berarti selamat karena aku tidak tersiksa. Aku mandi juga demi keselamatan diri. Sejauh pemahamanku, segala daya upaya, tindakan, dan polah tingkahku selalu mengarah pada dan merupakan manifestasi dari perjuangan mempertahankan hidup….

Kawan,…. Sejauh ini sih hanya itu yang ada dalam pemahamanku…. Apa yang sebenarnya aku juga tidak tahu…. Aku hanya sekedar memanfaatkan akal budiku… mencoba mengembangkan apa yang telah ditanamkan Sang Pencipta kepadaku… itu saja…. Seandainya aku salah atau sesat pikir, ya… aku minta maaf… dan aku mohon pemakluman darimu kawan…. Apa yang ada padaku hanya mampu memandang sebuah objek hanya dari salah satu sisinya saja…. Sekalipun aku selalu berpindah-pindah tempat….. Bila aku melihat sebuah bola, maka hanya satu sisinya saja yang nampak oleh ku. Aku tidak mampu memandang sebuah bola dari seluruh sisinya sekaligus… Bukankah begitu kawan?! Atau aku sesat pikir lagi?? Aku harap tidak… dan aku hanya bisa berharap kau pun berpendapat sama denganku…

Oke… lanjut dulu ya… ^_^

Ketika sudah merasa tercukupi segala kebutuhan itu, baru orang terdorong untuk berjuang mempertahankan hidup sesuatu yang ada di sekitarnya. Dorongan inilah yang popular dengan nama altruis. Dalam nuansa atruisme ini, orang yang disebut rela berkorban adalah orang yang mengesampingkan kepentingan pribadi dan mendahulukan keselamatan hidup orang lain. Orang yang disebut putus harapan adalah orang yang sudah kehilangan makna mempertahankan hidup. Orang yang disebut bijaksana adalah orang yang berjuang mempertahankan hidupnya sekaligus mempertahankan hidup orang lain. Dan orang yang disebut Pengikut Yesus adalah orang yang berjuang mempertahankan hidupnya sendiri tetapi demi kelangsungan hidup orang lain. Sori kalo aku menyebut itu dengan sebutan “Pengikut Yesus”. Maksudku adalah menunjuk orang beragama. Karena kebetulan aku Katolik, maka aku menyebutnya sebagai “Pengikut Yesus”.

Apa makna mempertahankan hidup?

Secara sederhana, mempertahankan hidup kumaknai sebagai sebuah perjuangan menjaga nyawaku demi mencari jati diriku yang sebenarnya; Jati diri yang telah ditentukan Tuhan atas hidupku sebelum aku menjadi buah dalam rahim ibuku; Sebuah perjuangan untuk mencari apa sebenarnya karsa Sang Ilahi, sehingga aku Ia ciptakan dalam tanah tempat bijiku ditanam, bertunas dari akar tempat aku mulai mengenal dunia, dan bertumbuh dari mineral-mineral yang berasal dari lingkungan aku hidup.

Mempertahankan hidup orang lain itu seperti aku merawat tanaman. Aku ikut mempertahankan nyawa tumbuhan itu dengan member air, member pupuk, menggemburkan tanahnya, member asupan cahaya matahari yang cukup. Dah… hanya sebatas itu saja. Selebihnya, usaha mempertahankan hidup ditentukan dari proses dan progress internal yang ada dalam tumbuhan itu. Aku tidak dapat mengatur lalulintas makanan dalam Xylem dan floem. Aku tidak dapat menentukan prosentase kadar mineral yang mesti diserap oleh tiap untai bulu akarnya.

Berbicara tentang orang lain, aku jadi ingat akan e-mail yg dikirimkan oleh seorang rekanku di milis Soe_Hok_Gie. Ia bercerita tentang anak yang terlahir dengan mengidap virus HIV. Diceritakan bahwa anak itu energik dan selalu bersemagant dalam melakukan segala sesuatunya. Belum lepas bangku SD,, anak itu menderita tumor ganas di hidung. Tumor itu telah dengan sukses menutupi separuh wajahnya karena keluarganya tidak memiliki biaya untuk operasi. Belum selesai urusannya dengan sakitnya itu, berita (yang menurutku) menyedihkan tentang kesehatan anak itu datang lagi. Sang bocah kecil itu divonis dokter telah menderita Leukimia….. Tragis bukan?!

Mengetahui kisah itu dan menyadari pergulatan yang sedang kualami aku jadi bertanya: apa tujuan hidup anak itu? Apa yang dikehendaki Tuhan dengan mengizinkan anak itu menikmati duia ini? Jika Tuhan tidak adam siapakah yang bertanggung jawab atas nyawa ini? Mengapa sang pemberi nyawa nekat saja memberikan nyawa pada setangkai bakung yang hidup di gurun Gobi ini? Apa panggilan hidupnya di dunia ini? Apakah panggilan hidupnya di dunia ini hanya sekedar memberikan teladan bagi orang-orang yang disebut putus harapan dalam menjalani kehidupan di atas tanah tempat mereka hidup? Apa yang dapat kulakukan baginya sebagai bentuk kepedulianku akan nyawanya? Di manakah angin di bawah kepak sayapnya? Apakah panggilan hidupku nantinya juga demi dia? Apa panggilan hidupku? Apa motivasi panggilan hidupku?

Memang, di hadapan Tuhan aku tidaklah lebih baik dan lebih tinggi martabatnya daripada anak itu. Juga aku tidak lebih rendah dan lebih hina dan nestapa daripada bocah itu. Menyadari adanya batas-batas ruang dan waktu serta jarak, aku hanya mampu memasrahkan bocah itu pada cinta Ilahi yang selalu lebih besar dari segala macam hal-hal dan tindakan-tindakan baik dari manusia. Mungkin, tragis juga karena keikutsertaanku dalam memperjuangkan hidup dan keselamatannya hanya dengan menyerahkannya begitu saja pada karsa dan cinta Allah melalui tangan-tangan orang lain yang saat ini tidak mengalami keterbatasan-keterbatasan yang saat ini, kini, dan di sini sedang kualami. Kiranya, aku boleh belajar tentang kerendahan hati dari refleksi ini, kawan. Aku berharap, semoga orang lain juga mengalami pembelajaran yang sama denganku……

ya……. Semoga…..

11.05

Kamis, 21 Mei 2009

Geliat Perasaan

Rasa ini menyapaku lagi.
Kali ini Ia meracau…
Mengacau-balau ketenangan dalam hati…
Polahnya kelewat parah…
Sampai-sampai mimpi-mimpi lama tergugah…
Menggeliat dari dasar endapan-endapan hati…
Yang berhasil ku nina bobokan kala aku mulai mengerti arti birahi.
Segerombolan mimpi berhasil membujuk sang Pemimpi
Menggumamkan imajinasi akan dia yang kucintai.
Ah… Harus dengan apa lagi aku membujuknya kembali terlelap
dan mulai mengarang cerita lagi tentang penyangkalan akan adanya mimpi-mimpi itu?

Dulu aku berpikir ia tak akan bangun lagi…
Sehingga aku memutuskan untuk berjalan tenang
Hingga hari ini.

Kupikir perasaan itu tak akan berhasil menemukanku di jalan ini.
Dulu aku yakin dia tak tertarik dengan jalan yang penuh liku dan terjal ini.
Dan kurasa jalan ini telah melupakannya
Selalu berusaha meredamnya tuk selalu diam.

Itu dulu…
Kini aku sadar…
Perasaan berbeda dengan seekor semut yang terlalu mudah dimusnahkan.
Perasaan itu abadi…
Ia terlalu cerdas untuk menyusup dalam hati manusia.

Kini sang pemimpi mendapatkan mainan lamanya…
Dan aku hanya diberi kegelisahan yang indah.

Aku ingin mencintaimu…
Aku ingin menyayangimu…

Mencintai hanya karena cinta
Menyayangi hanya karena sayang

Kentungan, Mei 2009
Untuk tulang rusukku yang belum kutemukan (atau mungkin tak prnah menjadi milikku).

Jumat, 12 Agustus 2005

PerNIKAHan / PerKAWINan

ikaapa bedanya pernikahan yang sah dan pernikahan yang tidak sah?????


hampir semua orang percaya dan mengikuti paham bahwa: pernikahan yang sah adalah pernikahan
yang sudah tercatat dalam KUA atau catatan sipil. Betul????
betuuuulll....

pagi ini, kamis,5 Agustus 2010, aku barusan baca berita di Yahoo.com.
Pernikahan masal yang digelar di Sleman, Yogyakarta ternyata membawa kebahagiaan tersendiri
bagi pasangan yang sudah lama menjalin ikatan suami istri tetapi tidak menikah(dlm arti catatan sipill). Salah satu yang berhasil dilaporkan, sepasangan suami istri mengikuti perhelatan itu dalam usia 86 tahun....
WOOOOOOOWWWWWWW!!!!!
Bagiku itu adalah hal yang luar biasa....
GILLLEEEE BENEERRRRRR!!!!!
hebatnya lagi... mereka sudah memiliki cucu... dan keluarga mereka Fine-fine aja selama menjalani 'pernikahan' itu....

aku jadi bertanya-tanya... sebernarnya pernikahan yang benar-benar pernikahan itu gimana ya?

kalau aku boleh berceloteh, menurutku pernikahan itu mestinya mengandung:
@ rasa cinta tulus
@ rasa memiliki satu sama lain
@ caring each other no matter what
@ kesediaan tulus untuk menjalin kehidupan berkeluarga tanpa mempedulikan apakah harus sah menurut hukum atau tidak.

Bagiku, pernikahan adalah seperti itu
makna pernikahan sebenarnya melampaui segala aturan, kaidah, dan hukum2 yang telah disusun oleh manusia dan yang selalu mengatasnamakan demi kebaikan bersama.
oke.... aturan2 itu benar dan baik.
Akan tetapi, aku diingatkan lagi bahwa makna cinta, makna pernikahan, dan segala makna yang merupakan keutamaan2 hidup selalu melampaui segala sesuatu yang telah dirumuskan oleh manusia.

Segala rumusan2 yang telah dirumuskan baik dan perfect (menurut manusia) tidak pernah mencukupi makna dari segala keutamaan2 yang ada dalam kehidupan.
Keutamaan-keutamaan, makna2 bijak, selalu ada dibalik apa yang nampak di dunia ini.

yang nampak itu apa saja???
menurutku apa yang nampak itu adalah apa yang dapat kita indra; apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, dan apa yang kita rasakan.
satu2nya alat yang digunakan untuk mengungkapkan apa yang nampak adalah bahasa. Dan bahasa itu sendiri juga terbatas. Bahasa tidak pernah bisa menampung seluruh makna yang sebenarnya ada dalam segala sesuatu yang nampak itu sendiri.

So, cobalah untuk selalu mengerti.....
So, lihatlah apa yang ada di balik tiap hal2 yang nampak dalam kehidupan.....
So, dengarlah apa yang ada di balik suara2 yang di teriakkan kehidupan....
So, rasakanlah apa yang ada di balik sentuhan-sentuhan dari kehidupan sekitar kita.....

Selalu mencoba mengerti dan memahami adalah salah satu cara terbaik untuk menjalani hidup....


Ndes Zedeng.. ^_^