About Me

Selasa, 20 April 2010

Sumber Pengetahuan yang Melatari Iman

Manusia dilahirkan dengan tanpa pengetahuan. Segala yang nantinya ia ketahui didapat melalui indra-indra yang dipercayai oleh orang-orang beriman sebagai anugerah dari Tuhan. Kelima indera itu mengakibatkan manusia akhirnya memiliki daya yang kerap dikenal dengan daya cipta, rasa, dan karsa. Daya-daya itulah yang memungkinkan manusia untuk menyumbangkan sesuatu bagi dunia.

Sumber pengetahuan yang diperoleh manusia untuk menghasilkan sesuatu diperoleh dari mana? Sumber pengetahuan diperoleh dari segala sesuatu di dalam kehidupan manusia yang kemudian ditangkap oleh kelima indra tadi. Karena sifatnya ditangkap, maka pengetahuan yang diperoleh manusia itu harus diinterpretasikan dengan akal budinya. Setelah diinterpretasikan, baru pengetahuan yang ditangkap itu menjadi pengetahuan bagi manusia tersebut. Dengan demikan, secara sederhana, dapat dimengerti bahwa ada dua jenis pengetahuan. Yang pertama adalah pengetahuan yang berasal dari segala sesuatu yang dijumpai manusia dalam kehidupannya (belum diinterpretasikan). Yang kedua adalah pengetahuan yang merupakan hasil interpretasi manusia melalui kemampuan-kemampuan yang dimiliki manusia.

Sama halnya dengan agama. Pengetahuan seseorang tentang suatu agama juga terdiri dari dua jenis. Yang pertama adalah pengetahuan yang diyakini merupakan pewahyuan dari yang Ilahi kepada manusia. Yang kedua adalah pengetahuan yang merupakan hasil interpretasi manusia atas pewahyuan itu.

Bertolak dari filsafat Aristoteles yang menawarkan tentang konsep “Sang Pengada Pertama”, yang sekarang kita sebut sebagai Allah, maka kita bisa membedakan cirri khas masing-masing sumber pengetahuan tersebut.

Wahyu

Hasil Interpretasi

1. Berasal langsung dari yang Ilahi.

2. Hanya diturunkan pada orang-orang tertentu.

3. Masih kaya makna.

4. Dianggap memiliki otoritas yang lebih tinggi.

5. Ditangkap dan dipahami dengan akal.

1. Merupakan hasil dari interpretasi atas wahyu.

2. Bisa didapatkan oleh siapa saja yang berkehendak untuk menginterpretasikannya.

3. Maknanya terbatas pada orang yang menginterpretasikannya. Hasil tafsirannya juga tergantung pada siapa yang menafsirkan, apa sejarah hidupnya, dan apa yang diinginkannya dengan menafsirkan pewahyuan itu.

4. Otoritasnya lebih rendah karena berasal dari manusia yang nota bene diyakini sebagai ciptaan yang Ilahi (Allah)

5. Ditangkap dan dipahami dengan akal budi.

6. Butuh latihan dan iman agar hasil interpretasi atas pewahyuan itu mendukung apa yang diyakini. Seorang yang tidak punya iman pun juga bisa menginterpretasikan, tapi tentunya akan menghasilkan pengetahuan yang berbeda.

Dari perincian sifat-sifat dua sumber pengetahuan itu, tampak bahwa pengetahuan manusia tentang suatu agama tertentu atau agama yang diyakininya amatlah terbatas. Yang lebih mendasar lagi adalah bahwa pengetahuan-pengetahuan yang memiliki cara-cara yang khas untuk mendapatkannya itu, sesungguhnya berasal dari satu. Menurut orang-orang beriman, mereka menyebutnya sebagai Allah.

Jika memang setiap agama memiliki sumber-sumber pengetahuan tentang agamanya seperti pola di atas, maka bolehlah kita meminjam filsafat Aristoteles sebagai kacamata pandangnya. Jika setiap agama meyakini dalam diri mereka masing-masing bahwa setiap agama dari mereka memiliki pewahyuannya masing-masing, menurut Aristoteles, pasti ada penyebab sebelumnya yang meng-ada-kan pengetahuan itu. Jika ditelusuri terus menerus, maka akan sampailah pada sesuatu yang disebut sebagai causa prima (penyebab pertama yang tidak disebabkan oleh sebab lain).

Dari logika sederhana ini saja, tentunya kita boleh mengerti bahwa tidak semestinya manusia meyakini bahwa apa yang diterimanya atau apa yang telah diwahyukan kepadanya adalah paling benar. Sekalipun tiap manusia tetap bersikap dan menyakini bahwa agamanya adalah paling benar, faktanya tetap ada kelompok lain yang juga meyakini hal yang sama. Ketika seorang manusia meyakini agamanya yang paling benar, manusia lain yang meyakini bahwa agamanya juga paling benar tidak langsung musnah atau mati dengan sendirinya oleh karena ada agama yang lebih benar yang diyakini oleh orang pertama itu. Dengan begitu, berarti ada dua agama yang paling benar.Jika ada 2 hal yang paling benar, berarti ketika itu dinyatakan sebenarnya tidak ada salah satu dari mereka yang paling benar. Dan sesuatu yang benar itu juga merupakan ungkapan dari manusia yang berbeda dimana ungkapan itu merupakan produk dari akal budi yang dimiliki tiap manusia dengan kekhasannya masing-masing.

Bila sudah sampai pada tahap ini, perlu ditanyakan kembali, darimana pengetahuan tentang itu didapat; apakah dari sumber yang pertama atau dari sumber yang kedua.

0 komentar:

Posting Komentar